Sejarah Desa

31 Januari 2017 12:18:39 WIB

SEJARAH DESA WONOANTI

Alkisah perjalanan Sang Panji Sanjaya Rangin Siswa dari Sang Bupati ponorogo Batara katong, yang di tugaskan untuk memperluas Wilayah ke arah selatan sampai di Dusun Pule ( termasuk wilayah desa Nglaran). Diwilayah Pule terdapat perguruan yang sangat  besar di bawah pimpinan Ki Gede pule yang beragama Budha. Sang Panji Sanjaya Rangin bergurukepada Ki Gede Pule dan di beri tugas membabat hutan, hutan tersebut diperluas dan terus diperluas (jw, diwelar-diwelar) sekarang disebut Nglaran (sebuah desa di sebelah selatan desa Wonoanti)

                Pada Suatu hari Ki Gede Pule menghadirkan murid-muridnya untuk membantu mengolah tanah, berhubung murid-murid yang hadir begitu banyak sehingga lauknya tidak mencukupi, disembelihlah Bebek Putih hewan kesayangan Sang Panji Sanjaya Rangin. Sebelum Sang Bebek Putih tersebut mati, datanglah Sang Panji sanjaya Rangin lalu membawa  Sang bebek yang terluka tersebut dengan marah-marah.

                Begitu besar kemarahan Sang Panji Sanjaya Rangin sehingga minggat menuju ke arah utara. Begitu lelah sang Panji Sanjaya Rangin beristirahat dan duduk diatas batu besar dan panjang. Datanglah Ki Gede Pule menghampiri Sang Panji berkata “ Ngger anakku Sanjaya Rangin”. Sang Panji Sanjaya Rangin yang masih dalam keadaan marah  menghardik dengan berkata ”Jangan anggap aku anakmu dan kau sebagai guruku !” (jw. Nyengap / nyenal) Berucaplah Ki Gede Pule bahwa tempat tersebut di kemudian kelak dinamakan watu Senalangan (Berada di Wilayah Dusun Bulih termasuk Desa Wonoanti dekat Perbatasan Desa Nglaran).

                Sang panji Sanjaya Rangin melanjutkan perjalanannya ke arah utara melawati sungai kecil dan di situ menemukan tumbuhan yang bernama Dilem. Diambillah beberapa daun dilem tersebut untuk mengobati luka Sang Bebek yang di bawanya, Sungai kecil tersebut di beri nama Ndilem (suatu sungai yang terletak di Dusun Bulih desa Wonoanti)

                Sang panji terus berjalan ke arah utara dan behenti di suatu tempat dan tercium lagi bau dari luka Sang bebek (jw. Tatune mambu malih) dan tempat tersebut di beri nama Mbulih (  salah satu nama Dusun yang berada di Desa Wonoanti ditulis Bulih)

                Begitu besar kasih sayangnya Ki Gede Pule kepada Sang Panji Sanjaya Rangin, sehingga kepergian Sang Panji selalu diikuti terus oleh Sang Guru, sampai ditengah hutan Ki Gede Pule menunggu kedatangan Sang Panji sampai beberapa hari, dan bertemulah Ki Gede Pule dengan Sang Panji di tengah hutan tersebut dan ternyata kemarahan sang Panji masih berlanjut (jw. Kebanjur-banjur) tempat tersebut diberi nama Ngganjur (salah satu petilasan yang ada di Desa Wonoanti terletak di sebelah utara Pasar desa Wonoanti) dan Hutan tempat menunggu kedatangan Sang Panji dinamakan “WONOANTI”                                                                           ( Jw. Wono = alas = hutan  Anti= nganti-anti = nunggu)

                Perjalanan Sang Panji Sanjaya Rangin sampai di suatu tempat yang letaknya agak tinggi (Jw Lungur). Disitu Sang Panji Sanjaya Rangin beristirahat dan tidak lama kemudian datanglah Ki Gede Pule menghamipirinya dan sempat terjadi adu mulut dan terlontar kata-kata dari Sang Panji Sanjaya Rangin                          “ Wong Tuwa ora kena nggo pathokan” (Ind. Orang tua tidak bisa untuk Panutan). Tempat tersebut dinamakan Lungur pathok (Salah satu Petilasan yang berada di Desa Wonoanti, disitu terdapat dua Petilasan berjajar berdekatan, Konon yang satu tempat duduk Sang panji Sanjaya Rangin dan yang satunya tempat duduk Ki Gede Pule)

                Dengan masih memendam rasa amarahnya Sang Panji Sanjaya Rangin melanjutkan perjalanannya ke arah barat..................sampai ke wilayah Desa Sanggrahan Kecamatan Kebonagung.

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Wonoanti

tampilkan dalam peta lebih besar